Sesaat, aku seperti masih merasakan dinginnya udara malam yang kita nikmati bersama kala itu, saat di mana aku menemukan sisi baik tentangmu…
Kutemukan satu orang lagi yang membawa imajiku memandang sisi lain dari hidupku, dari sakitku dan dari asaku.
Katamu, saat itu kamu tak ingin banyak tau tentang skoliosisku, karna kamu hanya ingin memandangku sebagai perempuan yang normal. Dan aku tak suka itu. Tapi kamu bilang, akan tau tanpa harus mendengarnya dari mulutku, karna melihatku mengucapkan kisah itu hanya membuatmu sedih karna kau tau, tak mudah untukku menceritakannya.
“Kamu harus yakin bahwa kamu akan sembuh…”
Katamu, aku tak perlu bilang bahwa aku kuat, karna kamu tau bahwa sesungguhnya aku rapuh dan aku tak bisa sendiri, karna itulah kau tawarkan dirimu untuk tempatku bersandar agar aku tetap berdiri tegar, kau tawarkan bahumu untuk menenangkan tangisku, dan kau tawarkan genggaman tanganmu untuk menguatkanku saat aku sakit.
“Kamu hanya butuh penopang…”
Katamu, aku tak perlu takut dengan hari-hari berat yang harus aku lewati saat itu, karna kau akan menjagaku. Saat itu mungkin aku bilang bahwa aku tak kuat lagi, dan aku menangis. Tapi tak satu katapun terucap dari mulutmu. Hanya menatapku, lalu keluar dan tiba-tiba hapeku berbunyi. Ada sms masuk. Darimu.
“Bintang kecilku…”
Dan saat aku tersadar, betapa aku dan kondisiku telah banyak menyita waktumu, aku pun mulai menjauh. Kamu diam. Saat aku ucapkan maaf dan terima kasih. Kamu hanya tersenyum dan meninggalkanku. Tapi lagi-lagi hapeku berbunyi.
“Rela mencintai berarti rela dengan tulus pula dalam memberikat yang terbaik buat kamu..itu adalah kebahagiaan buat saya karena kamu..”
Katamu, aku pun tak perlu ragu akan masa depanku, karna aku tidak sendiri. Aku juga tak perlu khawatir akan orang-orang yang datang dan pergi silih berganti meskipun mereka kadang menyakitiku, karna jalanku masih panjang. Kau ceritakan padaku, betapa masa itu masih jauh, dan masa ini, biarkan aku menikmatinya seperti saat ini, bukan untuk masa yang masih jauh itu. Kau yakinkan padaku bahwa saat ini bukan untuk memikirkan (bahkan menangisi) mereka, tapi untuk merajut mimpiku agar kelak kuperoleh kebahagiaan yang abadi.
“Jalan kita masih panjang, tak perlu serius untuk hal yang lain, karna yang perlu kamu pikirkan hanyalah masa depanmu. Kelak, kamu pasti akan menemukan orang yang benar-benar ada untukmu. Tapi itu bukan sekarang. Mau hidup pakai apa? Jadi harus sukses dulu. Itu harga mati”
Aku : bukan sekarang? Lalu kapan?
X : iya, bukan sekarang, 3 tahun lagi mungkin
Aku : 3 tahun? Kenapa saya harus menunggu 3 tahun?
X : 3-4 tahun lagi mungkin saya datang untuk bertemu kamu dan mungkin namamu sudah lebih panjang. Kamu tau maksudnya? Mungkin saat itu saya sudah mapan, dan kamu sudah lulus s2, andaikan kamu akan menuruti keinginan ortu buat sekolah lagi. Artinya, saat itu nanti semoga mimpi kita akan sama-sama tercapai. Saat itulah kamu baru boleh serius berpikir yang lain.
Aku : andaikan 3 tahun lagi kita ada di jalan yang berbeda, berarti saya tidak akan bertemu kamu?
X : serahkan semuanya pada Allah, kita hanya berusaha kan? Saya hanya berpikir agar kamu sehat dan memperoleh yang terbaik untuk hidup kamu dan kesehatan kamu.
Aku : lalu apa yang harus saya usahakan untuk 3 tahun lagi? Untuk mimpi, saya tidak akan pernah berhenti bermimpi dan berjuang untuk meraihnya, dengan atau tanpa kamu. Tapi saya ingin bisa bertemu dengan orang yang pernah menolong saya…
X : kamu tau kan kunci sebuah hubungan? Komunikasi.
Dear sahabat,,,
Sekarang mungkin kita benar-benar jauh… hanya bisa mengingatmu dalam setiap doaku…mungkin hanya dengan itu komunikasi kita tetap terjalin…
Padahal, di akhir pertemuan waktu itu, aku belum sempat mengucapkan maaf dan terima kasih secara langsung… hanya sebuah kalimat yang sanggup terkirim untukmu yang kuselipkan di buku itu
“Terima kasih untuk hari-hari indah yang pernah menyatukan kita…”
Dan seminggu yang lalu, kutemukan sebuah sms masuk. Darimu
“Terima kasih untuk semua hal yang pernah menyatukan kita…”
Tanpa tersadar, itu untuk yang terakhir…sebelum akhirnya kamu menghilang…
aku tau, kamu bukan orang baik sampai kamu harus menghapus jejakmu (dan aku sangat menyadari itu tanpa kamu perlu menceritakan kehidupanmu yang sebenarnya)
Tapi buatku, kamu adalah keajaiban kecil dalam hidupku. Seseorang yang dikirimkan untuk menolongku saat aku jatuh dan menghapus keraguan akan masa depanku (sebagai seorang skolioser)
Aku tidak menyesal mengenalmu, andaikan aku menemukanmu, akupun tak kan menghujatmu. Aku masih di sini, untuk menguatkanmu sama seperti yang pernah kamu lakukan untukku dulu.
Sekarang aku tak lagi menemukanmu…mungkin inilah saatnya aku berjuang seperti katamu, merebut mimpiku… Dan sampai jumpa 3 tahun lagi…
Tertulis sambil mendengarkan lagu Ungu-Hakikat Cinta
Dan kutitipkan salam rinduku lewat alunan doaku…








Mr_21 berkata,
Oktober 2, 2010 pada 7:33 pm
Romantis tenan euy… kayak di tipi-tipi.
@Mr_21: haha,,,hanya mengungkapkan isi hati aja kok…:)
anisa berkata,
November 12, 2010 pada 3:45 pm
so sweet. jadi ngiri nich. ayo tetep semangat!!! jangan pernah menyerah,